Selasa, 27 November 2012


HAND BOOK  2009




Health

1.       Drink plenty of water.
2.       Eat breakfast like a king, lunch like a prince and dinner like a beggar.
3.       Eat more foods that grow on trees and plants and eat less food that is
          manufactured in plants.
4.       Live with the 3 E's -- Energy, Enthusiasm, and Empathy.
5.       Make time to practice meditation, yoga, and prayer.
6.       Play more games.
7.       Read more books than you did in 2008.
8.       Sit in silence for at least 10 minutes each day.
9.       Sleep for 7 hours.
10.     Take a 10-30 minutes walk every day. And while you walk, smile.

Personality:

11.    Don't compare your life to others'. You have no idea what their journey is all about.
12.    Don't have negative thoughts or things you cannot control.
         Instead invest your energy in the positive present moment.
13.    Don't over do. Keep your limits.
14.    Don't take yourself so seriously. No one else does.
15.    Don't waste your precious energy on gossip.
16.    Dream more while you are awake.
17.    Envy is a waste of time. You already have all you need.
18.    Forget issues of the past.
        Don't remind your partner with his/her mistakes of the past.
        That will ruin your present happiness.
19.    Life is too short to waste time hating anyone. Don't hate others.
20.    Make peace with your past so it won't spoil the present.
21.    No one is in charge of your happiness except you.
22.    Realize that life is a school and you are here to learn.
         Problems are simply part of the curriculum that appear and fade away like algebra class
         but the lessons you learn will last a lifetime.
23.    Smile and laugh more.
24.    You don't have to win every argument. Agree to disagree.

Society:

25.    Call your family often.
26.    Each day give something good to others.
27.    Forgive everyone for everything.
28.    Spend time with people over the age of 70 & under the age of 6.
29.    Try to make at least three people smile each day.
30.    What other people think of you is none of your business.
31.    Your job won't take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.

Life:

32.    Do the right thing!
33.    Get rid of anything that isn't useful, beautiful or joyful.
34.    GOD heals everything.
35.    However good or bad a situation is, it will change.
36.    No matter how you feel, get up, dress up and show up.
37.    The best is yet to come.
38.    When you awake alive in the morning, thank GOD for it.
39.    Your Inner most is always happy. So, be happy.

Last but not the least:

40.    Please Forward this to everyone you care about.


Kiriman :
kiki@bpkpenabur.or.id
Dari GERD sampai Miss Tekor .



Bicara Sakit Maag, sering2 menahun maklum biasanya kan orangnya bandel,
sudah tau nggak boleh makan/minum ini itu tapi tetap saja melanggar.
Memang susah, sudah larangannya segudang - makanan yang enak-enak lagi.
Dalam buku Dr. Handrawan Nadesul berjudul Resep Mudah Tetap Sehat,
pada halaman 165 - 176 yang membahas mengenai penyakit Maag, terdapat
aneka larangan, mencakup bukan saja makanan asam/pedas, roti dan mie,
teh dan coklat, sampai pepaya juga (mengandung papaine-pelunak daging).

Akibat bandel itu maka penyakitnya juga bandel nggak hilang2, saya memang
tidak minum alkohol, kopi atau masakan yang pedas2, tapi karena ranjaunya
kelewat banyak, yah kena lagi kena lagi.
Maagnya ini hilang timbul, sesekali bisa hebat seperti saat perjalanan di India.
Di kota Agra, tiba2 ulu hati nyeri luar biasa hebat, sampai2 saya pikir wuah
celaka kena serangan jantung nih - game gue deh di dekat Taj Mahal nih.
Belakangan ternyata ulah si Maag itu juga yang rupanya ngambek karena
kebanyakan kemasukan kare.

Belum lama saya menengok teman sejawat yang sempat dirawat di ICU
karena nyeri ulu hati hebat menembus kebelakang yang khas nyeri serangan
jantung, ternyata sekian hari nginap di ICU itu jantungnya baik-baik saja.

Banyak teman yang menganjurkan di Endoskopi saja, memang dengan di
teropong itu bisa dipastikan apa yang menyebabkan keluhan, apakah
radang, luka ataukah sudah terjadi kanker dan dimana lokasi kelainannya.
Tentu menjalani endoskopi bukan suatu hal yang mengenakkan, kita harus
"menelan" selang plastik berkamera sa-gede telunjuk, siapa sih yang
nggak ciut harus memasukkan monster warna hitam itu kedalam perut.
Teman2 dokter yang sudah pernah di endoskopi membujuk saya, antara
lain Dr. Anastina, SMSnya : Kalau saya boleh berbagi dok, dijalani saja,
sebentar aja koq, nggak sakit lagi, daripada kepikiran terus.
Kalau Dr. Nieng lain lagi SMSnya : saya aja yang cewek berani koq dok.

Tapi tetap saja nggak mempan, sampai di hari Minggu 26 April kemarin,
di suatu pertemuan saya ngobrol dengan teman dokter yang istrinya sudah
sekian tahun lalu meninggal. Saat saya tanyakan sakitnya apa - ternyata
kanker lambung, yang terlambat terdeteksi.
Wah kalo gini mah saya nggak ada pilihan lain dah, harus di endoskopi.

Esoknya, saya memasuki ruang Endoskopi RS Usada Insani, niatnya
mau lihat2 situasi, tempat/peralatan dan nanya2 ke petugas disana.
Kebetulan perawatnya ada, yang dengan sigap menjelaskan prosedurnya:
Mudah dok katanya, makan siang terakhir jam 11.00, jam 14 masih boleh
minum teh manis, setelah itu tidak boleh lagi.
Jam 18.30 sudah tiba disini, dan jam 19 dikerjakan endoskopinya, dengan
sebelumnya diberikan suntikan lewat pembuluh darah supaya tenang.
Endoskopinya bentar koq dok katanya, paling 3 - 5 menit, nggak kerasa
dan setelah terbangun, bisa langsung pulang.

Terakhir si suster nyebut nama-nama dokter senior yang juga pernah
di endoskopi disitu, ada spesialis jantung-kebidanan-penyakit dalam,
sampai mantan direktur sebuah rumah sakit besar.
Komplit dah ngomporin-nya suster ini, bikin saya jadi mantap.
OK jadi - saya daftar deh !

Oh, Dr. H. Chudahman Manan SpPD KGEH sedang Umroh, kata perawat,
Rabu pulang-nya tapi Kamis sudah melakukan endoskopi lagi.
Iya dah Kamis saya kesini.

Kamis sore saya mempersiapkan diri dengan seksama, termasuk mandi
super bersih sampai2 cuci rambut segala, pikir saya antisipasi kalau2
ada sesuatu sampai mesti nginap di RS maka kepala saya nggak gatal.

Jam 18.25 sudah lapor dan menunggu, istri saya sempat heran koq
saya nggak senewen, saya bilang kayaknya sih ini hasil latihan meditasi,
yang walaupun bolong-bolong nggak rutin tapi ada hasilnya juga rupanya.

Jam 19.00 masuk ke ruang tindakan, bertemu dengan Dr. Chudahman,
dokter yang tinggi besar, ramah dan ceria ini menanyakan keluhan saya
selama ini, dan akhirnya bilang ini kayaknya sih GERD.
GastroEsophageal Reflux Disease terjadi karena asam lambung masuk
ke esophagus, normal seharusnya flow makanan setelah ditelan -
melewati pipa esophagus, diujung hilir pipa esophagus ada cincin yang
bisa membuka/menutup.
Saat makanan ditelan dia membuka, makanan jatuh ke  lambung,
setelah itu menutup lagi agar tidak terjadi reflux/balik ke esophagus.
Kalau terjadi masalah pada cincin itu, asam lambung bisa menerobos
balik masuk ke esophagus.
Asam itu membuat luka pada dinding esophagus, sehingga timbul rasa
nyeri, sampai bisa pula memicu terjadinya kanker.

Suster kemudian mempersilahkan naik ke bed, setelah tiduran ujung jari
dipasang alat monitor denyut jantung, hidung dimasukkan selang Oksigen.
Buka mulut dan disemprot cairan anestesi yang terasa pahit agak pedas,
dan sebuah alat model dot bayi tanpa karet dotnya disumpal dimulut.
Tengah2 alat itu berlubang untuk jalan masuk selang nantinya.
Dipasang jarum ditangan kanan untuk memasukkan obat suntik, dan
diminta miring kekiri, ambil posisi tidur yang enak kata si suster.

Saya masih sempat mendengar istri saya dengan Dr.Chudahman masih
berbincang soal GERD, yang sering2 terjadi karena kebiasaan orang
setelah makan langsung tiduran, seharusnya 3 - 4 jam baru boleh begitu
agar tidak terjadi reflux asam lambung.

Suster kemudian menyuntikkan obat via jarum ke pembuluh darah di
tangan kanan saya itu - terasa agak panas disitu, terus -------------------------
mendadak terasa istri saya membangunkan saya :

Pap, bangun pap !,  udah selesai nih!.
Hah, udah selesai ?
Iya - udah setengah jam yang lalu ! Dikerjakannya tadi paling 3 menit saja,
ini kita sudah ada diruang observasi.
Hah, bener ? Oooh saya tadi langsung amblas rupanya !.

Tidak lama Dr. Chudahman datang dan menyerahkan laporan endoskopi
yang sudah diketik rapih berikut 4 buah foto bagian dalam lambung saya.
Ternyata memang ada sedikit peradangan dan lecet, tapi beliau bilang
tidak mengkhawatirkan dan tidak perlu tindakan lebih lanjut, hanya minum
obat2an dan menjaga makanan/minuman.
Whoaaa legaaaa, plong banget !.

Diperjalanan pulang, istri saya bilang lagi :
Pap, tadi kamu tidur enak banget tuh, sampe pake ngigo segala lagi.
Oh ya ?
Iya !, ngigonya nyebut Tekor - Tekor !
Haaah yang bener ??
Iya lah, kenceng2 lagi nyebutnya, suster-suster sampe pada ketawa !!

Astaga - untung aja nggak ada cewek cakep yang bernama Miss Tekor,
bisa-bisa pecah perang dunia dirumah !.


Catatan :
GERD ternyata bisa memicu berbagai penyakit sampai Asthma, Sinusitis dll,
silahkan membuka :
http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/gerd/
http://www.medicinenet.com/gastroesophageal_reflux_disease_gerd/article.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Gastroesophageal_reflux_disease
http://jdokter.com/index.php?option=com_content&task=view&id=203&Itemid=2
Naik si Bongsor ke Paris


Menjelang tengah malam, Sabtu 19 September 2009, terminal 3 Changi Airport Singapore,
tibalah saatnya boarding, kami berjalan dilorong aerobridge dan sekilas tampak dari
jendela kaca moncong si-Bongsor yang sebentar lagi akan membawa kami ke Paris,
berarti akan terbang nonstop sejauh 11271 Km selama lebih dari 12 jam..
Pesawat gendut dengan panjang  72,7 meter dan rentang sayap 79,8 meter itu salah
satu dari sembilan buah A-380-800 milik Singapore Airlines.
Kabarnya SQ sedang pesan 10 buah lagi, memang kalah jauh dibanding Emirates
yang pesan sampai 41 buah.

Pesawat dengan berat kosong 280 ton ini, jendelanya ada 220 buah dan rodanya 22
buah (empat buah lebih banyak dari B747), bisa terbang sejauh 15,200 km pada
cruising speed Mach 0.85 (900 km/jam), artinya bisa nonstop terbang HongKong-
NewYork.

Ini untuk pertama kalinya saya naik pesawat penumpang double decker terbesar didunia.
Memang Megatop B747-400 juga punya dua lantai tapi bagian depannya saja,
sedangkan Super Jumbo ini full dari depan sampai ke ekornya.
Sayangnya saat nerima boarding pass tertera Main Deck, bukan upper deck, berarti
pupus kesempatan merasakan duduk dilantai atas yang kabarnya lebih nyaman.
Maklumlah namanya juga beli tiket economy class, mesti pasrah ditaruh dimana saja.

Memasuki kabin pesawat, awalnya serasa masuk Jumbo Jet biasa, tapi pengaturan
baris kursi didalam Super Jumbo milik SQ ini agak lain.
Tiap deret kursinya memang dalam jumlah lazim yaitu 10 buah, posisi juga biasa yaitu
3 - 4 - 3, tapi hanya deret kursi pinggir kiri kanan yang sejajar, empat kursi tengah
tidak sejajar dengan yang pinggir. Pengaturan ini membuat kabin terasa lebih lega,
apalagi walau bisa memuat sampai 800 kursi, dalam pesawat ini hanya 471 saja.

Tidak lama kami siap take-off, suara mesin halus walau kami duduk dekat sayap,
kebisingan dalam kabin kabarnya terendah dibanding pesawat pendahulunya,
begitu tenang sehingga bisa mengurangi kepenatan penumpang secara signifikan.
Bising didalam kabin A380 konon hanya setengah B747, dan tekanan udara dibuat
seakan berada di ketinggian 1524 meter ketimbang 2438 meter pada B747,
sehingga bisa mengurangi efek kelelahan dalam penerbangan jauh.
Udara didalam kabin juga di recycled tiap tiga menit agar udara tetap fresh, ini
membuat penumpang merasa segar sepanjang dan setelah penerbangan.

Pesawat mulai berlari, awalnya heran juga karena suara rodanya koq gerudugan,
dan terasa bergetar, larinya juga lama banget sebelum bisa lepas dari landasan,
barangkali pesawat ini saat itu sedang gendut2nya yang berat maksimal take-off
bisa sampai 560 ton.

Saya lihat semua seat terisi penumpang, tapi jumlah toilet juga memadai - dalam
satu kompartemen saja ada 5 buah.
Kursi juga nyaman empuk, dan tiap belakang sandaran kursi ada layar monitornya,
sehingga bisa betah nonton begitu beragam film maupun airflight moving map.

Sekitar jam 01.30 waktu Singapore, diedarkan supper yang main course-nya bisa
pilih antara Beef fillet with rosemary sauce, roasted assorted vegetables and gratin
potato atau Kung po style chicken with fried rice and chinese greens.
Seperti biasa kami berdua nggak ambil pusing - ambil saja makanan berbeda,
karena selain nggak ngerti kayak apa makanan itu juga agar masih bisa makan
kalau ada yang nggak cocok.
Setiap penumpang juga mendapat tas kecil bertuliskan Givenchy, isinya kaus kaki
penahan udara dingin dan sikat gigi + odol.

Selesai makan, lampu mulai dipadamkan dengan "sopan" karena meredupnya
begitu pelan2, didalam toilet juga lampu nyala padamnya sopan begitu - pelan2.

Setelah breakfast, sekitar jam 6.30 waktu Paris, pesawat mendarat dengan keras
serasa dibanting saja, sampai kami agak terlonjak.

Turun dari pesawat, ternyata memang pengaturannya sudah baik, kami lancar
diarahkan ke berbagai gate imigrasi, pemeriksaan juga cepat saja, main ceplok
saja visa Schengen kami yang di apply di kedutaan Spain.

Jadi inget sms2-an dengan bu Ole beberapa hari sebelum berangkat,
pemosting pertama di milis Jalansutra ini bilang bahwa kalau naik A380 di economy-
class mah bakalannya sama aja rasanya seperti naik pesawat Jumbo lain.

Memang sih di SuperJumbo SQ ini bukan saja ada Business dan First Class,
tapi juga ada Suite Class yang duduknya seakan didalam sebuah kamar saja.
Tapi bu Ole saya tuh takutnya double kalau duduknya disana.
Pertama adalah takut bangkrut dan yang kedua takutnya lebih parah lagi, yaitu:
Takut betah nggak mau turun padahal pesawat-nya udah nyampe - he3.

50 STEPS TOWARDS A GREAT MARRIAGE




50 STEPS TOWARDS A GREAT MARRIAGE
(by Steve Stephens)

Lets start practicing these......
1. Start each day with a kiss.
2. Wear your wedding ring at all times.
3. Date once a week.
4. Accept differences.
5. Be polite.
6. Be gentle.
7. Give gifts.
8. Smile often.
9. Touch.
10. Talk about dreams.
11. Select a song that can be "our song".
12. Give back rubs.
13. Laugh together.
14. Send a card for no reason.
15. Do what the other person wants before he or she  asks.
16. Listen.
17. Encourage.
18. Do it his or her way.
19. Know his or her needs.
20. Fix the other person's  breakfast.
21. Compliment twice a day.
22. Call during the day.
23. Slow down.
24. Hold hands.
25. Cuddle.
26. Ask for each other's opinion.
27. Show respect.
28. Welcome the other person home.
29. Look your best.
30. Wink at each other.
31. Celebrate birthdays in a big way.
32. Apologize.
33. Forgive.
34. Set up a romantic getaway.
35. Ask, "What can I do to make you happier?".
36. Be positive.
37. Be kind.
38. Be vulnerable.
39. Respond quickly to the other person's request.
40. Talk about your love.
41. Reminisce about your favorite times together.
42. Treat each other's friends and relatives with courtesy.
43. Send flowers every Valentine's day and  anniversary.
44. Admit when wrong.
45. Be sensitive to each other's  sexual desires.
46. Pray for each  other daily.
47. Watch sunsets together.
48. Say "I love you" frequently.
49. End the day with a hug.
50. Seek outside help when needed.

PASS THIS ON TO YOUR MARRIED -  AND UNMARRIED - FRIENDS &  FAMILY,
SO THAT THEY MAY HAVE LOVE, GIVE  LOVE & SHARE LOVE.

Be Happy



Dr. David, yang Kepala Puskesmas ini, dulu selalu menghampiri meja saya
kalau dia ada urusan di Kantor Dinas Kesehatan Kota Tangerang.
Dia lebih muda 15-an tahun, tapi hobby kami sama yaitu baca buku, dan
kalau mampir itu David selalu bercerita soal buku yang baru dibacanya.
Suatu ketika dia mampir lagi dan cerita2 tentang buku Harry Potter yang
waktu itu baru saja mulai populer di Indonesia.
Saya bilang :
Vid, lho koq kamu baca Harry Potter sih ?, itu kan buku bacaan anak-anak !.
Dijawab :
Iya sih, tapi itu kan buku yang begitu men-dunia, masa sih kita nggak baca ?.
Iya bener juga yah, maka jadilah saya beli buku pertama-nya dan lumayan
menikmati kisahnya.
Memang saya tidak membeli buku-buku lanjutannya, tapi saya pikir
pendapat David benar kalau kita nggak mau kuper soal buku yang hebat ini.
David juga punya disiplin yang bagus soal membaca, selalu menargetkan
setiap buku yang dibelinya harus selesai dibaca dalam waktu dua minggu.
Nah kalau soal ini saya nyerah dah, banyak bolongnya - boro2 selesai
dalam dua minggu, ada yang tahunan baru kebaca separuh.
Kacaunya lagi, pernah saya beli buku yang sama gara2 tidak disiplin itu.
Kini setidaknya setiap buku saya berikan tanggal, lumayan membantu
mengingatkan saya kalau buku itu sudah kelewat lama belum "dihabisi".
David pula-lah yang membuat saya membeli buku yang ternyata bikin
saya tidak habis2nya menyesali diri sendiri kalau kenapa tidak dari dulu
saya baca buku "Personality Plus" karangan Florence Littauer yang
begitu mencerahkan.
Buku super bagus tentang watak dasar manusia ini (choleris-melankolis-
sanguinis-phlegmatis), sudah tahunan terpampang terus-terusan di rak
berbagai toko buku seperti Gramedia, Kharisma dll.
Padahal kita lihat buku-buku baru bermunculan dengan kecepatan yang
mengerikan - suatu buku baru yang kurang laku dalam hitungan hari
sudah menghilang dari display - tempatnya dijajah buku baru yang lain.
Ini bukti nyata kalau buku Personality Plus itu buku bagus,
yang tetap laris walau sudah tahunan bercokol disitu.
Kami berdua tentu makin senang karena toko buku Gramedia kini ada
dimana-mana, karena buat kami kalau kebetulan pergi ke Mall, maka
masuk ke toko buku itu adalah suatu kenikmatan tersendiri.
Suatu ketika saya mendapati ada buku dengan judul yang sama, tidak
tanggung2 - sampai tiga buku !, yaitu : Be Happy !
(saya tahu ada buku bagus berjudul itu juga dari David !).
Tentu ini fenomena yang menarik, kenapa bisa sampai banyak yang
menulis topik yang sama, penulisnya orang2 yang berkelas lagi -
salah satunya adalah  Anand Khrisna.
Memang siapa sih yang nyaman dengan memiliki rasa Takut/Cemas,
dan siapa pula sih yang tidak ingin bisa Berbahagia. Ini mungkin yang
membuat para penulis memilih hal yang begitu manusiawi ini
Salah satu buku itu,  covernya tampak atraktif, bertuliskan :
                                 Be Happy 
Mengatasi Takut dan Cemas dari Akarnya, dan Berbahagia
                 dalam segala Situasi.
Pengarangnya adalah Sri Dhammananda, beliau ini pendeta Buddha.
Awalnya saya ragu membelinya - mengira khusus ditujukan untuk
para penganut agama Buddha saja.
Tapi membeli juga setelah membaca keterangan bahwa tidak demikian,
jadi walaupun ditulis dengan latar pemahaman Buddhis, pesan-pesan
dalam buku ini berlandaskan hukum alam dan bersifat universal -
sehingga bermanfaat bagi segenap umat manusia.
Buku setebal 300 halaman ini terbagi dalam 4 bagian :
Akar Takut dan Cemas - Kiat mengatasi Takut dan Cemas -
Benih-Benih Kebahagiaan - Kiat Hidup Bahagia dalam segala situasi.
Penuturannya enak disimak, dan memang mencerahkan, pengarang
sesekali mengutip pendapat para pemikir yang terkenal bijak,
misalnya :
Khalil Gibran, yang bisa menjadi bahan renungan para orang tua
yang suka gamang dalam mengenal siapa anak2nya :
- Anak-anakmu adalah bukan anak-anakmu
  Mereka adalah putra-putri kehidupan
  Yang merindukan dirinya sendiri
  Mereka datang melaluimu, namun tidak darimu
  Meskipun mereka bersamamu
  Mereka bukan milikmu
  Engkau boleh memberikan cintamu kepada mereka
  Tapi tidak pemikiranmu
  Karena mereka memiliki pemikiran mereka sendiri
  Engkau boleh berusaha menyamai mereka
  Namun janganlah berusaha membuat mereka sama denganmu.
Khalidasa, seorang penyair dan dramawan besar India, yang
menuliskan bait mengenai kebenaran sederhana tentang hidup :
- Kemarin hanyalah mimpi
  Dan hari esok cuma lamunan
  Tapi hari ini, yang dilakoni dengan baik
  Membuat setiap hari kemarin menjadi mimpi indah
  Dan setiap hari esok adalah visi harapan dan keriangan
  Karenanya, jalanilah hari ini baik-baik.
Penulis lainnya :
- Kebahagiaan ada didalam perjalanan, bukan di tempat tujuan.
  Berbahagialah mereka yang hidup dengan cita-cita luhur dan mulia.
  Berbahagialah mereka yang memperkaya kehidupan orang-orang disekitarnya.
  Berbahagialah mereka yang membiarkan orang lain hidup dalam kedamaian.
  Berbahagialah mereka yang menyumbangkan sesuatu untuk membuat dunia -
  ini menjadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali.
  Berbahagialah mereka yang berkarya atas dasar cinta kasih.
  Berbahagialah mereka yang mengasihi orang lain.
  Berbahagialah mereka yang membahagiakan orang lain.
  Penderitaan berarti akhir dari Kebahagiaan.
  Kebahagiaan berarti akhir dari Penderitaan.
Dalam buku itu disarikan bahwa Kita Takut karena Ketidaktahuan, dan
Jangan Kejar Kebahagiaan karena Kebahagiaan bukanlah sekedar
mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan merasa berkecukupan
dengan apa yang kita dapatkan.
Kebahagiaan dikatakan bukan merupakan tujuan yang harus dikejar-kejar,
karena Kebahagiaan lebih merupakan suatu cara menyikapi hidup,
dalam setiap detak kehidupan - dalam kekinian.

Tertarik mau "dapat Be Happy" ?.
Ayo atuh ke Gramedia, siapa tahu ketemu juga sama David disana.

"Janji sang Optimis"

"Janji sang Optimis" dibawah ini terdapat dalam buku berjudul :
" The Key " karangan Joe Vitale, Guru The Secret.



"Janji sang Optimis"

Berjanjilah kepada Diri Sendiri :

Menjadi kuat sehingga tak ada yang bisa mengganggu ketenangan
      pikiran Anda.

Bicara tentang kesehatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan kepada
     setiap orang yang Anda temui.

Membuat semua teman Anda merasa ada sesuatu dalam diri mereka.

Melihat sisi baik segala sesuatu dan mewujudkan optimisme Anda.

Berpikir hanya yang terbaik, bekerja hanya untuk yang terbaik, dan
      mengharapkan hanya yang terbaik.

Bersikap sama bersemangatnya tentang kesuksesan orang lain
      seperti tentang kesuksesan Anda sendiri.

Melupakan kesalahan masa lalu dan terus maju menuju pencapaian
      yang lebih besar di masa depan.

Berwajah ceria setiap saat dan tersenyum kepada setiap makhluk
      hidup yang anda temui.

Memberikan begitu banyak waktu untuk perbaikan diri sendiri
      sehingga Anda tidak punya waktu untuk mengkritik orang lain.

Menjadi terlalu bijaksana untuk khawatir, terlalu mulia untuk marah,
      terlalu kuat untuk takut, dan terlalu bahagia untuk membiarkan
      ada masalah.

Berpikir baik tentang diri sendiri dan menyatakan fakta ini kepada
    dunia, tidak dalam perkataan sombong tapi dalam tindakan mulia.

Hidup dalam keyakinan bahwa seluruh dunia memihak Anda selama
       Anda selalu memberikan upaya terbaik Anda.



Catatan :
"Janji sang Optimis" pertama kali dipublikasikan di tahun 1912  dalam
buku karya Christian D.Larson, Your Forces and How to Use Them.
Sebuah versi pendeknya sekarang digunakan Optimist International,
suatu kelompok orang dari seluruh dunia yang berfokus untuk
membuat perubahan positif di dunia.

Sabtu, 10 November 2012


Dubrovnik - Mutiara Cantik di Tepi Adriatik











“Those who seek Paradise on Earth should come to see Dubrovnik”.

Demikian ujar George Bernard Shaw, yang rupanya begitu terpukau
saat berkunjung ke kota tersebut.
Selintas tentu ungkapan itu terasa berlebihan, tapi yang bicara ini
bukan orang sembarangan, dia pemenang Nobel Kesusasteraan tahun
1925, dan juga Oscar tahun 1938 untuk naskah film Pygmalion.
Maka tentulah pantas sanjungan-nya itu kita simak atau malah kita
uji sendiri kebenarannya dengan berkunjung pula ke Dubrovnik.

Tentunya dimana letak Dubrovnik tidak banyak orang yang tahu,
jangankan kota kecil itu - mencari letak negaranya saja yaitu
Croatia didalam peta, kita bisa “keringatan”.
Negara pecahan Yugoslavia ini ternyata menyimpan segudang
keunikan, bentuk wilayahnya seperti Boomerang dengan sisi
panjangnya adalah tepian Laut Adriatic.
Laut terbersih didunia ini adalah cabang Laut Mediterania,
bentuknya seakan sebuah kanal selebar 175 kilometer yang
menusuk masuk ke ulu hati benua Eropa sejauh 800 km.
Kalau salah satu sisi “kanal” itu adalah pantai Italy, maka sisi
lainnya adalah Semenanjung Balkan dimana Croatia berada.

Garis pantai Italy relatif lurus, datar dan tanpa pulau di lepas
pantainya, sebaliknya pantai Semenanjung Balkan berbukit-bukit
serta berkelok-kelok indah sekali, dengan banyak sekali pulau
besar kecil berjajar sepanjang dan tidak jauh dari pantai.
Hal inilah yang membuat pantai semenanjung Balkan bukan saja
indah juga nyaman dan aman, sehingga menarik turis berdatangan.

Diujung paling bawah boomerang-shaped Croatia itulah terletak
Dubrovnik, kota ditepi laut Adriatic yang saking cantiknya sampai
dijuluki : Pearl of the Adriatic.

Dubrovnik memang sungguh menakjubkan, berusia ratusan tahun
dengan dinding benteng tinggi mengelilingi kota, dan sejak
tahun 1979 ditetapkan oleh Unesco sebagai World Heritage karena
sarat dengan berbagai gereja-biara-istana dan air mancur bergaya Gothic/Renaissance/Baroque yang sangat terpelihara baik.
Seluruh isi kota seakan menjadi monumen, ditambah dengan
arsitektur dan alam yang begitu indah, menjadikan Dubrovnik
kota yang paling cantik di Croatia.

Mencapai Dubrovnik paling praktis tentu lewat udara.
Ada penerbangan reguler setiap hari dari London dengan
British Airway (beberapa kali seminggu dengan Croatia Airlines).
Penerbangan harian juga ada dari ibukota Croatia Zagreb atau
dari Dublin dengan Air Lingus.
Lewat laut, bisa dengan ferry internasional dari Bari (Italy).
Kami sendiri memilih jalan darat, berangkat dari Sarajevo/Bosnia
pada pagi hari Sabtu 28 Oktober 2006.
Karena mampir dulu ke Medjugorje dan Mostar, dan harus melalui
pemeriksaan imigrasi yang cukup lama di border Bosnia dan Croatia
(negara Balkan belum masuk Schengen), sekitar jam 21 barulah bus
kami tiba direstoran Komin di Babinkuk Holiday Park Dubrovnik.

Selesai makan malam, kami menuju President Hotel yang berbintang
empat dan setelah menerima kunci kamar, dengan ter-kantuk2 kami
memasuki kotak lift, lalu tekan tombol angka 7 .
Tapi kemudian kami semua terperangah, sesudah pintu lift tertutup
bukannya lantai lift terangkat sesuai asumsi kami, malah sangkar lift
itu bergeser kesamping dan mulai miring menurun!
Astaga!, ternyata hotel dibangun mengikuti kemiringan lereng bukit.
Jadi lobby-nya ada di atas bukit, dan tingkat-tingkat lantai hotel
berikutnya ada dibawahnya sampai ke tepi pantai, tidak ubahnya
bentuk terasering petak-petak sawah di lereng pegunungan.
Maka sangkar lift itu berjalan miring diatas sebuah escalator.
Pengalaman teman kami lebih heboh lagi, pasangan yang membawa
dua anak kecil ini sampai histeris, dikiranya kabel lift itu mau putus.
Sambil teriak-teriak kalap mereka berebutan memenceti seadanya
tombol-tombol yang ada didalam lift.

Esok pagi-nya, hiruk pikuk semalam itu langsung terbayar lunas,
karena saat terbangun kami mendapati pemandangan dari kamar
kearah laut yang luar biasa indahnya.
Tampak laut yang berwarna crystalline blue, airnya tenang sekali
terlindungi oleh deretan pulau-pulau besar kecil, dan kebetulan
sekali ada sebuah kapal pesiar besar warna putih sedang melintas.
Tampak cantik dan anggun sekali bak Angsa putih sedang
meluncur tenang diatas air membiru itu.

Setelah makan pagi, dengan bus kami menuju highlight perjalanan
kami di Croatia ini yaitu memasuki Old City of Dubrovnik.
Dubrovnik mempunyai sejarah yang menarik, pernah selama ratusan
tahun menjadi Republik Ragusa yang perdagangannya maju sekali
Mereka bisa berdagang dengan banyak negara, mulai dari Turki
sampai India di timur (dengan menempatkan seorang consul di Goa),
dan punya perwakilan perdagangan di Afrika (Cape Verde).
Selain menjadi negara yang kuat dalam perdagangan, art dan culture
juga maju sekali.
Republik Ragusa yang mencapai jaman keemasan pada abad 15 dan
16, sangat menghormati kebebasan termasuk menyetop perdagangan
budak pada tahun 1418. Dan ternyata negara pertama yang mengakui
kemerdekaan Amerika adalah Republik Ragusa ini.

Belakangan perdagangan di Mediterrania meredup, kemalangan
demi kemalangan menerpa – terjadi gempa bumi dahsyat tahun
1667 yang meluluh lantakkan Dubrovnik.
Pukulan maut bagi Republik Ragusa bukanlah kejadian itu, tapi
datang dari pasukan Napoleon pada tahun 1806.
Awalnya Napoleon hanya memblokade Dubrovnik, tapi akhirnya
memasuki kota. Pada hari itu seluruh bendera didalam kota
Dubrovnik di cat hitam sebagai tanda duka yang mendalam.

Perjalanan dengan bus hanya sebentar saja dan kami diturunkan
di depan Pile Gate, salah satu dari dua gate dari bentengan kota
kuno yang diameternya sekitar 500 meter itu.
Memang bentengan banyak dimana-mana, tapi bentengan ini
unik sekali karena dibuat bukan cuma untuk melindungi sebuah
kastil, tapi sebuah kota yang cukup besar.
Panjang kelilingnya sampai dua kilometer, tingginya 25 meter
dan mempunyai 15 buah menara.
Dinding benteng yang dibangun antara abad 13 dan 16 , masih
sangat utuh seperti awalnya.

Bersama banyak turis lain kami berjalan memasuki Pile Gate dan
kemudian kami seakan terdampar mundur ke abad pertengahan.
Didepan kami tampak membentang Stradun, jalan utama Old City
dan disebelah kanan tampaklah Big Onofrio Fountain yang dibangun
tahun 1348, yang tampak atraktif berupa huge central dome dengan
16 buah pancuran disekelilingnya.
Anak tangga sekeliling fountain tampak menjadi tempat duduk para
pengunjung yang kelelahan.
Juga tampak Franciskan Monastery, pabrik farmasi tertua di Eropa
yang sudah mulai beroperasi pada tahun 1391.

Dimana mana terlihat gedung-gedung kuno yang tinggi-tinggi,
dengan tembok batu kapur warna coklat keabuan, semua gedung
seragam beratapkan genteng warna merah.
Sama sekali tidak terlihat tanda tanda modernisasi, walaupun
banyak rumah itu dijadikan toko atau restoran tetapi tidak ada
satupun yang memasang papan nama atau spanduk.

Kami kemudian menapaki Stradun, city promenade yang panjangnya
292 meter dan lebar 15 meter ini sejak tahun 1468 beralaskan
batu marmer. Telapak kaki orang yang lalu lalang selama berabad-
abad menjadikannya seolah digosok setiap hari, hingga kini tampak
licin berkilat.
Dimalam hari lantai itu memantulkan cahaya lampu, maka tampak
menakjubkan - berkilau indah sekali.
Diujung Stradun sampailah kami di Orlando Column, sebuah
plaza yang menjadi tempat paling favorit bagi para turis untuk
menikmati suasana kota.
Tampak banyak orang duduk-duduk santai di kursi yang
disediakan oleh cafe-cafe, maupun ditangga St. Blaise Church
yang bergaya Baroque dan merupakan gereja dari Santo Blaise –
Santo pelindung kota.
Sekeliling plaza tampak berbagai bangunan kuno lainnya seperti
Small Onofrio Fountain, Sponza Palace ( Gothic Renaissance
Palace ini salah satu dari sedikit bangunan yang selamat dari
gempa bumi dahsyat tahun 1667 ), Bell Tower, dan Rector
Palace yang dibangun tahun 1441 dan kini dijadikan city museum.
Benarlah kata walikota Dubrovnik bahwa kota ini bukanlah
Museum Kota tapi Kota yang sarat dengan Museum.

Kini saatnya kami naik ke atas dinding benteng dan akan
berjalan disana mengelilingi kota kuno yang dibangun
menjorok kelaut itu.
Begitu sampai diatas dinding kami langsung terpana melihat
pemandangan kearah luar benteng yang indah sekali.
Kami rupanya berada diatas St.John Fort, dan dibawah kami
tampak Old Port Dubrovnik. Diatas air laut yang membiru
banyak boat sedang berlabuh dimuka berbagai gedung kuno
yang memakai genteng merah, dengan dilatarbelakangi
lereng kehijauan dari Mount Sergius, mempesona sekali.

Tak jauh dari Old Port tampak sebuah kapal wisata besar
sedang berlabuh, perahu perahu tampak menjemput para
penumpang yang mau mendarat di kota Dubrovnik atau
bertamasya menuju ke pulau2 sekitar.

Kalau pandangan dialihkan kedalam kota, tampak lautan
genteng merah yang terlihat rapih sekali karena semua
gedung didalam kota tua seragam memakai genteng
warna merah sehingga kontras dengan warna hijau dari
lereng Mount Sergius dibelakang kota dan langit yang
berwarna biru cerah.

Sepanjang perjalanan menelusuri dinding benteng itu kami
disuguhi pemandangan yang sungguh luar biasa cantik.
Baik kearah laut yang terlihat begitu bersih membiru,
maupun kearah kota kuno yang begitu terjaga keasliannya
seperti sekian ratus tahun lalu, sungguh menawan hati.

Saat tiba kembali dihotel, persis Sunset menjelang, kami
semua berebut mencari tempat yang strategis ditepi pantai,
untuk menyaksikan bola kemerahan yang makin meredup
sinarnya itu dengan perlahan masuk ke peraduannya.
Hari dan tahun boleh berganti tapi tidak dengan Dubrovnik
yang tetap abadi, setia dengan keaslian dan keindahannya.